Minggu, 05 Desember 2010

Flores runs out of rabies vaccine

Yemris Fointuna, The Jakarta Post, Kupang | Sat, 11/15/2008 11:00 AM | National
A | A | A |

The number of people bitten by rabid dogs on Flores, East Nusa Tenggara, has increased, just as the island is running out of anti-rabies vaccine and serum.

The most recent victim was three-year-old Fandi Mere of Wolowaru district, Ende regency, who reportedly died Wednesday after being bitten by a rabid dog the week before.

Some witnesses said the child had not been treated with vaccine or serum as the local Puskesmas (community health center) had run out of stock.

The head of the animal health division at East Nusa Tenggara Husbandry Agency, Maria Geong, said Friday her office had distributed 140,000 doses of anti-rabies vaccines and serums to regencies across Flores since May.

"If the vaccine has been used up, then that means the dog population has increased, reducing the stock of vaccine," she said.

"My office distributed the vaccine based on each regency's demand. We have yet to receive reports of serum or vaccine shortages."

The 10 regencies in Flores are West Manggarai, Manggarai, East Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Alor, Lembata and East Flores.

Maria said that during the past 10 years, her office had records of 162 people in the island having died after being bitten by rabid dogs, not 135 people as reported previously.

"There have been six fatalities this year so far," she said.

Last week it was reported that Nikolaus Nggong, 60, and his grandson, Waldi Yoram, 10, died after being bitten by rabid dogs.

The two, both residents of Satar Nawang village, Sambi Rampas district, East Manggarai regency, did not receive any injections when being treated at a local health center, said East Manggarai Health Agency acting head, Philipus Mantur.

"Waldi died at the Ruteng General Hospital after the rabies virus had attacked his brain while Nikolaus passed away at his residence," he said.

Two other people were saved after receiving an anti-rabies vaccine injection.

Previously, Eston Lalu Djone, 8, a student of SD Katolik Ende III elementary school, also died after being bitten by a rabid dog.

It is estimated that there are about 30,000 dog on Flores.

"The administration had tried the mass elimination of dogs in Flores. The effort, however, failed to prevent the rabies virus from spreading," Maria said.

Flores runs out of rabies vaccine

Yemris Fointuna, The Jakarta Post, Kupang | Sat, 11/15/2008 11:00 AM | National
A | A | A |

The number of people bitten by rabid dogs on Flores, East Nusa Tenggara, has increased, just as the island is running out of anti-rabies vaccine and serum.

The most recent victim was three-year-old Fandi Mere of Wolowaru district, Ende regency, who reportedly died Wednesday after being bitten by a rabid dog the week before.

Some witnesses said the child had not been treated with vaccine or serum as the local Puskesmas (community health center) had run out of stock.

The head of the animal health division at East Nusa Tenggara Husbandry Agency, Maria Geong, said Friday her office had distributed 140,000 doses of anti-rabies vaccines and serums to regencies across Flores since May.

"If the vaccine has been used up, then that means the dog population has increased, reducing the stock of vaccine," she said.

"My office distributed the vaccine based on each regency's demand. We have yet to receive reports of serum or vaccine shortages."

The 10 regencies in Flores are West Manggarai, Manggarai, East Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Alor, Lembata and East Flores.

Maria said that during the past 10 years, her office had records of 162 people in the island having died after being bitten by rabid dogs, not 135 people as reported previously.

"There have been six fatalities this year so far," she said.

Last week it was reported that Nikolaus Nggong, 60, and his grandson, Waldi Yoram, 10, died after being bitten by rabid dogs.

The two, both residents of Satar Nawang village, Sambi Rampas district, East Manggarai regency, did not receive any injections when being treated at a local health center, said East Manggarai Health Agency acting head, Philipus Mantur.

"Waldi died at the Ruteng General Hospital after the rabies virus had attacked his brain while Nikolaus passed away at his residence," he said.

Two other people were saved after receiving an anti-rabies vaccine injection.

Previously, Eston Lalu Djone, 8, a student of SD Katolik Ende III elementary school, also died after being bitten by a rabid dog.

It is estimated that there are about 30,000 dog on Flores.

"The administration had tried the mass elimination of dogs in Flores. The effort, however, failed to prevent the rabies virus from spreading," Maria said.

AWAS ANTIBIOTIKA DALAM DAGING

Masuknya residu antiobiotika ke dalam tubuh lewat konsumsi daging ternak harus diwaspadai karena dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap obat-obatan.

Peringatan tersebut diungkapkan beberapa pakar di China menyusul tren penggunaan antiobiotika pada hewan ternak yang makin meningkat. Laporan menyebutkan, hampir setengah dari antibiotika yang diproduksi di Negeri Tirai Bambu itu diberikan kepada ternak daripada digunakan untuk mengendalikan penyakit pada manusia.

Sekitar 210.000 ton antibiotika yang diproduksi di China setiap tahun, sekitar 97.000 ton di antaranya berakhir dalam tubuh hewan, ungkap Xiao Yonghong, profesor dari Institute of Clinical Pharmacology of Peking University, seperti dilansir koran People’s Daily.

Riset yang digagas Chinese Academy of Social Sciences menemukan, lebih dari 50 persen peternakan di Provinsi Shandong dan Liaoning selalu menambahkan antibiotika pada pakan hewan yang diternakkan.

"Penggunaan antibiotika sudah menjadi lumrah sekarang, yang berujung pada meningkatnya tingkat kematian hewan karena tingkat kekebalan mereka menjadi tertekan. Selain itu, antibiotika kerap merugikan kesehatan seseorang setelah diminum," ujar Qi Guanghai, kepala riset di Akademi Ilmu Agrikultur China.

"Perhatian harus diberikan pada masalah asupan antibiotika melalui konsumsi makanan sehari-hari, karena hal itu dapat meningkatkan kemungkinan bakteri kebal yang berkembang dalam tubuh manusia," ujar Huang Liuyu, direktur Institute for Disease Prevention and Control of the People's Liberation Army.

Salah satu contohnya adalah bayi seberat 650-gram yang lahir prematur di Guangzhou. Seperti dilaporkan surat kabar People's Daily, bayi ini mengidap resistensi terhadap tujuh jenis antibiotika, yang diduga kuat akibat dari kebiasaan ibunya setiap hari mengonsumsi daging dan telur yang mengandung residu atau ampas dari antibiotika.

Bulan lalu, di dataran China juga dilaporkan kasus pertama bakteri NDM-1, yang resisten pada hampir semua jenis antibiotika.

Dengan adanya fakta meningkatnya kasus resistensi obat yang terdeteksi di China dan belahan bumi lainnya, Huang mendesak pihak yang berwenang seharusnya memberi perhatian lebih pada masalah ini, dan melakukan regulasi dengan baik pada sektor ini.

"Di Eropa, antibiotika dilarang untuk ditambahkan pada makanan ternah sejak bertahun-tahun dan pelarangan yang sama akan diimplementasikan di Korea Selatan," ujar Tu Yan, periset dari Akademi Ilmu Agrikultur China.

China memperkenalkan antibiotika ke dalam industri peternakan dalam upaya pencegahan penyakit pada era 1990-an. Regulasi tentang tambahan obat-obatan diterbitkan oleh China pada 2002, dan lebih banyak fokus pada penggunaan dosis yang tepat dari jenis antibiotika berbeda pada pakan ternak. Namun regulasi tersebut tak mengatur tentang supervisi penjualan dan penggunaan antibiotika yang berlebihan.

Sumber: Kompas.com

MENJAGA PULAU TIMOR DAN SUMBA TETAP BEBAS RABIES

Kasus rabies pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur terjadi di Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur, pada 1997.

Rabies yang terjadi di ujung Timur Pulau Flores itu diketahui masuk dari Pulau Buton melalui anjing yang dibawa nelayan Flores Timur.
Setelah 13 tahun dari kasus pertama itu, rabies sudah menular ke seluruh daerah di Pulau Flores, mulai dari Flores Timur, ujung timur Pulau Flores, Maumere, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat di ujung barat pulau Flores dan Lembata.

Jumlah kasus gigitan juga terus meningkat dari waktu ke waktu. Selama 10 tahun terkahir tercatat sebanyak 56.259 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia 168 orang.

Di dua pulau besar lainnya di provinsi kepulauan itu, yakni Pulau Sumba dan Pulau Timur, juga Alor, Rote Ndao dan Sabu Raijua yang terpisahkan oleh laut dengan Pulau Flores, masih bebas dari ancaman rabies.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Nusa Tenggara Timur drh. Maria Geong PhD menyatakan, Pulau Flores dan Pulau Lembata adalah dua wilayah yang sudah dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Sedangkan Pulau Timor, Sumba, Alor, Rote Ndao dan Sabu Raijua merupakan daerah bebas rabies.

"Sampai saat ini belum ada daerah lain yang tertular selain Flores, Lembata, Solor dan Adonara. Kita terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kasus ini,” katanya.

Vaksinasi kepada hewan penular rabies, seperti anjing, kata Maria, juga sudah dilakukan.

Ketua Lembaga Penelitian Pengkajian Demokrasi Masyarakat Marsel Ahang mengingatkan pemerintah daerah tidak terlena dalam pemberantasan rabies.

Upaya pengendalian harus tetap dilakukan secara berkala sehingga bisa meminamalisir mewabahnya penyakit itu.

Dia mengharapkan upaya pemberantasan penyakit rabies menjadi suatu gerakan bersama yang dilakukan secara terus-menerus dan dari waktu ke waktu.

"Selama ini sudah ada gerakan bersama yang dikendalikan oleh pemerintah daerah hingga hirarki pemerintah tingkat bawah untuk memberantas penyakit rabies. Tetapi mentalitas masyarakat cenderung mengabaikan program positif dari pemerintah,” katanya.

Karena itu, kata Marsel Ahang, pola yang digunakan hendaknya melibatkan pemangku adat yang ada di wilayah masing-masing karena mereka juga memiliki kapasitas untuk memberi pencerahan kepada masyarakat.

Kepala BKP Kelas I Kupang drh Farid Hermansyah mengatakan, pihaknya terus melakukan pengawasan di pintu-pintu masuk maupun ke luar yang ditunjuk pemerintah sesuai dengan pembagian wilayah kerja.

Dia mengatakan, sesuai aturan, hewan pengidap rabies dari daerah tidak bebas tidak boleh masuk ke daerah bebas, kecuali sebaliknya.

Dia juga meminta dinas terkait di Pulau Flores mengarantina anjing-anjing milik masyarakat yang berpotensi menularkan virus rabies.

"Tindakan karantina ini sangat penting agar anjing-anjing tersebut dapat diperiksa dan diamati secara rutin serta mengambil tindakan pemusnahan jika sudah tertular rabies, “ katanya.

Farid Hermansyah mengatakan jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kasus rabies di negeri ini masih relatif kecil.

Namun, kata dia, tetap harus namun ditangani secara tuntas agar dapat menekan jumlah korban jiwa akibat gigitan anjing rabies.

Ia menjelaskan, kasus rabies yang mematikan itu tidak hanya terdapat di Indonesia, khususnya Bali dan Flores, tetapi juga melanda sejumlah negara.

Karena itu, semua pihak terutama pemiliki anjing di daerah endemi rabies harus mempunyai kepedulian untuk mencegah penyebaran virus itu agar tidak meluas dan terus menelan korban jiwa.

Menurut Farid Hermansyah tindakan karantina dibolehkan oleh UU No.16/1992 tentang Karantina Hewan dan tumbuhan.

Selama ini, kata dia, upaya pencegahan rabies melalui vaksinasi dan penyuluhan tidak mempan bahkan dana yang dikeluarkan pemerintah pusat untuk penanggulangan rabies di Flores setiap bulannya yang mencapai Rp. 1,4 miliar juga tidak menjawab tantangan tersebut.

"Cukup besar dana yang dikucurkan. Tapi rabies di Flores belum juga dapat dihentikan," kata Farid.

Menurut dia, semua pihak tentunya bisa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa itu, sehingga virus yang sama tidak masuk dan menyerang ternak di daratan Timor, Sumba, dan Alor serta pulau-pulau lainnya di NTT.

"Sekali seekor anjing tertular Lyssavirus, virus penyebab rabies, memasuki suatu pulau, penyakit itu tak lama lagi menyebar,” kata Budi Tri Akoso.

Budi Tri Akoso adalah dokter hewan yang menjadi Direktur Pusat Veterinaria Farma Surabaya yang menangani penyakit rabies pertama di Flores Timur pada 1997 mengatakan.
Dari kejadian di Flores Timur itu, kata dia, sudah dapat diduga rabies akan segera menyebar sampai ke Bali.

Kemudian, 11 tahun setelah rabies pertama masuk NTT, serangan virus penyebarankebanyakan melalui anjing itu sampai Bali.

Pulau Bali, yang dinyatakan bebas rabies secara historis selama 82 tahun sejak ada Ordonansi Rabies tahun 1926, akhirnya tak mampu mencegah menyebarnya virus rabies.
Penghalang alami, yaitu lautan yang memisahkan pulau-pulau, akhirnya kalah oleh lalu lintas manusia dan hewan yang semakin tidak bias terkendalikan.

Maria Geong yang juga Kepala Bidang Penanggulangan penyakit Hewan pada Dinas Peternakan Provinsi NTT menambahkan rabies adalah tragedi bagi kemanusiaan dan kehewanan karena korban jiwa yang diakibatkannya, selain itu, dampak ekonomi juga sangat terasa.

Total kerugian ekonomi akibat rabies di NTT tahun 1998-2007 mencapai Rp142 miliar atau Rp14,2 miliar per tahun.

Biaya itu dihabiskan untuk pengobatan pascagigitan anjing pada manusia Rp19,9 miliar serta biaya vaksinasi dan biaya eliminasi hewan tertular sebesar Rp. 122,5 miliar.
Wakil Ketua DPRD NTT Nelson Matara menyarankan upaya untuk menanggulangi rabies di NTT dilakukan secara radikal.

Vaksinasi dan eliminasi anjing harus dilakukan secara massal dan serentak, tidak seperti selama ini yang sporadis dan lambat.

Kampanye besar-besaran ini penting untuk menyadarkan bahaya rabies kepada masyarakat, kata dia, selain memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan agar rabies tidak masuk ke daerah yang masih bebas. (T.B017/S018/P003)

Sumber: antaranews.com
 
Copyright © 2008 Free Blogger Template By Cool Stuff Blog